Tuesday, December 16, 2014

Saiyyidah Nafisah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِاارَّحِيم 
In the name of Allah, the Most Gracious and the Most Merciful




Kisah yang bakal dicoret ini merupakan kisah waliyullah wanita yang merupakan cicit Rasulullah saw.Semoga kisah beliau ini memberi suntikan semangat untuk kita berjalan menuju-Nya khususnya untuk sekelian wanita di luar sana.Insya Allah Amen.

Saiyyidah Nafisah Radiyallahu anhu merupakan putri Hasan al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathimah az-Zahra', putri Rasululullah Saw. Sayyidah Nafisah r.a dilahirkan di Mekah al-Mukarramah, 11 Rabiul awal 145 H. Pada tahun 150 H, Hasan telah dilantik sebagai Gabenor Madinah dan ia membawa Sayyidah Nafisah r.a yang baru berusia 5 tahun ke Madinah. Di sana Sayyidah Nafisah r.a menghafal Al-Qur'an, mempelajari tafsirnya dan senantiasa menziarahi makam datuknya, Rasulullah Saw. 
 
Sayyidah Nafisah r.a terkenal dengan watak zuhudnya, beliau berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajjud dan beribadah kepada Allah SWT. Sayyidah Nafisah r.a mulai umur enam tahun selalu menunaikan salat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di Masjid Nabawi. Setelah meningkat dewasa,Sayyidah Nafisah r.a telah menikahi sepupunya yang bernama Ishaq al-Mu'tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H sewaktu umur beliau mencecah 16 tahun. Hasil dari perkahwinan,beliau r.a telah dikurniakan seorang putra bernama al-Qasim dan seorang putri bernama Ummu Kultsum. 

Kehebatan ibadah Sayyidah Nafisah r.a tidak asing lagi dikalangan umat islam. Beliau r.a akan membaca al qur'an setiap malam sebanyak 15 juzu' dan pada malam berikutnya beliau akan mengkhatamkan al-qur'an .Beliau r.a juga telah menunaikan ibadah haji sebanyak 30 kali, sebagian besar ia lakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan karena meneladani datuknya, Imam Husain yang pernah mengatakan, "Sesungguhnya aku malu kepada Tuhanku jika aku menjumpai-Nya di rumah-Nya dengan tidak berjalan kaki." 

Hijrah ke Mesir

Sayyidah Nafisah r.a telah berhijrah  ke Mesir ketika usianya 48 tahun. Beliau r.a tiba di Mesir pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Sewaktu orang-orang Mesir mengetahui berita kedatangan beliau, mereka pun berangkat untuk menyambutnya di kota al-Arisy, lalu bersama-sama dengannya memasuki Mesir. 

Di bumi Mesir,Sayyidah Nafisah r.a telah dibantu oleh seorang pedagang besar Mesir yang bernama Jamaluddin 'Abdullah al Jashshash, di rumah ini Sayyidah Nafisah tinggal selama beberapa bulan. Penduduk Mesir dari berbagai pelosok negeri datang ke tempatnya untuk mengunjungi dan mengambil barokah darinya. Sayyidah Nafisah r.a khuatir hal itu akan mengganggu pemilik rumah. Beliau pun meminta izin untuk pindah ke rumah yang lain. la kemudian memilih sebuah rumah yang khusus untuknya di sebuah kampung di belakang Masjid Syajarah ad-Durr di jalan al-Khalifah. Kampung itu sekarang dikenal dengan nama al-Hasaniyyah.  

Penduduk Mesir yang telah mengetahui rumah baru yang ditempati oleh Sayyidah Nafisah r.a, segera mendatanginya. Sayyida Nafisah r.a merasa dengan banyaknya orang yang mengunjunginya, benar-benar menyulitkannya untuk beribadah. Beliau berpikir untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Orang-orang mengetahui rencana Sayyidah Nafisah r.a untuk meninggalkan Mesir. Mereka segera pergi ke penguasa Mesir, as-Sirri bin al-Hakam, dan memintanya agar meminta Sayyidah Nafisah r.a untuk tetap tinggal di Mesir. As-Sirri bin al-Hakam kemudian mendatangi Sayyidah Nafisah. 

Kepada as-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata, Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah datukku, Rasulullah Saw."  

Maka as-Sirri menanggapinya, "Wahai putri Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku memberikan itu kepadamu. Aku harap engkau mau menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya." Setelah lama terdiam, Sayyidah Nafisah r.a berkata, 'Ya, saya menerimanya." .

Kemudian ia Mengatakan, Wahai Sirri, apa yang dapat aku perbuat terhadap jumlah orang yang banyak dan rombongan yang terus berdatangan? “Engkau dapat membuat kesepakatan dengan mereka bahwa waktu untuk pengunjung adalah dua hari dalam seminggu. Sedangkan hari-hari lain dapat engkau pergunakan untuk ibadahmu, jadikanlah hari Rabu dan Sabtu untuk mereka," kata as-Sirri lagi. 

Sayyidah Nafisah r.a menerima tawaran itu. Beliau pun berpindah ke rumah yang telah diberikan untuknya dan mengkhususkan waktu untuk kunjungan pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu. 

Sayyidah Nafisah r.a &Imam Syafie

Sayyidah Nafisah r.a dikunjungi oleh banyak fuqaha, tokoh-tokoh tasawuf, dan orang-orang saleh. Di antara mereka adalah Imam Syafi’i r.a, Imam 'Utsman bin Sa’id al-Mishri, Dzun Nun al-Mishri, Al Mishri as-Samarqandi, Imam Abubakar al-Adfawi dan banyak ulama lain. Imam Syafi’i r.a datang ke Mesir pada tahun 198 H, lima tahun setelah kedatangan Sayyidah Nafisah r.a. Imam syafi’i r.a tinggal di Mesir lebih dari empat tahun.  

Ketika Imam Syafi’i r.a datang ke Mesir, ia telah menjalin hubungan dengan Sayyidah Nafisah. Hubungan keduanya diikat oleh keinginan untuk berkhidmat kepada akidah Islam. Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah r.a bersama beberapa orang muridnya ketika berangkat menuju halaqah-halaqah pelajarannya di sebuah masjid di Fusthath, yaitu Mesjid 'Amr bin al-'Ash.   

Walaupun Imam Syafi'i memiliki kedudukan yang agung, tetapi jika ia pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia meminta do’a kepada Nafisah dan mengharap barokahnya. Imam Syafi'i juga mendengarkan hadist darinya. Bila sakit, Imam Syafi’i mengutus muridnya sebagai penggantinya.  

Utusan itu menyampaikan salam Imam Syafi'i dan berkata kepada Sayyidah Nafisah r.a, "Sesungguhnya Imam Syafi'i sedang sakit dan meminta doa kepadamu." Sayyidah Nafisah lalu mengangkat tangannya ke langit dan mendoakan kesembuhan untuknya. Maka ketika utusan itu kembali, Imam Syafi’i telah sembuh.  

Suatu hari, Imam Syafi’i menderita sakit. Seperti biasanya, ia mengirim utusan untuk memintakan doa dari Sayyidah Nafisah r.a baginya. Tetapi kali ini Sayidah Nafisah r.a berkata kepada utusan itu, "Allah membaguskan perjumpaan-Nya dengannya dan memberinya nikmat dapat memandang wajah-Nya yang mulia." Ketika utusan itu kembali dan mengabarkan apa yang dikatakan Sayyidah Nafisah r.a, Imam Syafi’i tahu bahwa saat perjumpaan dengan Tuhannya telah dekat.  

Semasa hayatnya,Imam Syafi’i berwasiat agar Sayyidah Nafisah r.a menyolatkan jenazahnya apabila ia wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat pada akhir Rajab tahun 204 H, seramai 120,00 orang telah menyolatkan jenazah Imam Syafi'i r.a.Selepas solat jenazah, Sayyidah Nafisah r.a meminta agar jenazah Imam Syafi'i r.a dihantar ke rumahnya untuk beliau menyolatkan jenazah Imam Syafie bagi melaksanakan wasiatnya. Jenazah Imam Syafi’i dibawa dari rumahnya di kota Fusthath ke rumah Sayyidah Nafisah r.a, dan di situ ia menyolatkannya seorang diri.

Kepergian Seorang Waliyullah
Sayyidah Nafisah r.a telah menggali Kuburnya dengan tangannya sendiri Ketika beliau merasa ajalnya telah dekat, ia mulai menggali kuburnya sendiri. Kubur itu berada di dalam rumahnya. Ia turun ke dalamnya untuk memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat. Al-Allamah al-Ajhuri mengatakan, Nafisah mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kubur yang telah digalinya sebanyak 6000 ribu kali dan menghadiahkan pahalanya untuk kaum Muslimin yang telah wafat.  

Ketika sakit, ia menulis surat kepada suaminya, Ishaq al Mu'tamin, yang sedang berada di Madinah dan memintanya datang. Suaminya pun datang bersama kedua anak mereka, al-Qasim dan Ummu Kultsum. Pada pertengahan pertama bulan Ramadan 208 H, sakitnya bertambah parah, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Orang-orang menyarankannya untuk berbuka demi menjaga kekuatan dan mengatasi sakit yang dideritanya.Beliau pun menjawab, "Sungguh aneh! Selama 30 tahun aku meminta kepada Allah agar Ia mewafatkan aku dalam keadaan berpuas, maka bagaimana mungkin aku berbuka sekarang? Aku berlindung kepada Allah. Hal itu tidak boleh terjadi selamanya".  

Kemudian ia membaca surah al-An'am. Ketika sampai pada ayat, "Untuk mereka itu kampung keselamatan (syurga) di sisi Tuhan mereka. Dia penolong mereka berkat amalan yang mereka perbuat," (al-An'am: 127) Sayyidah Nafisah r.a lalu mengucapkan kalimat syahadat, dan naiklah rohnya keharibaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berjumpa dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.  

Sebelumnya, Saiyyidah Nafisah r.a berwasiat kepada suaminya untuk memindahkan jasadnya yang suci dalam peti ke Madinah untuk dimakamkan di sana bersama keluarganya di Baqi'. Namun, penduduk Mesir menentangnya dan menginginkan agar ia dimakamkan di kubur yang telah digalinya dengan tangannya sendiri.  

Penduduk Mesir mengumpulkan harta yang banyak, lalu menyerahkannya kepada suami Sayyidah Nafisah r.a seraya meminta agar jenazahnya tetap berada di Mesir. Namun suaminya enggan menerima permintaan itu. 

Ketika pagi, mereka mendatanginya lagi. Akhirnya suami Sayyidah Nafisah r.a memenuhi pemintaan mereka untuk memakamkan isetrinya di tempat mereka, namun ia mengembalikan harta mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpi. Beliau berkata kepadaku, Wahai Ishaq, kembalikan kepada mereka harta mereka dan makamkanlah Sayyidah Nafisah r.a di tempat mereka. 

Allahu a'lam.

Friday, November 7, 2014

Kisah Tassawuf dan tareqat digeruni Dajjal, orang kafir dan pengikutnya

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِاارَّحِيم 
In the name of Allah, the Most Gracious and the Most Merciful.




Utk renungan Ahli zikir...
Kisah Tassawuf dan tareqat digeruni Dajjal, orang kafir dan pengikutnya !!
Kenapa Dajjal,Eropah,freemason,illuminati sangat benci kepada ilmu tasawwuf dan tareqat?

Sebabnya,tasawwuf mengajarkan kita penyucian hati dan taqarrub(dekat) dengan Allah dan apabila hati suci dan dekat dengan Allah,maka nusrah(pertolongan Allah) akan terzahir seperti yang berlaku kpd para Sahabat nabi,hanya dengan 313 tentera dlm keadaan kelengkapan yang kurang,dapat hancurkan 1000 tentera kafir yang lengkap bersenjata pada perang badar,begitu juga yang berlaku kepada Saidina Khalid Al-Walid,hanya dengan membawa 59 orang tentera Sahabat,mereka dapat hancurkan tentera Rom seramai 60 000 orang yang lengkap berbaju besi dan bersenjata canggih...

Sejarah telah membuktikan peperangan demi peperangan Islam dengan kafir adalah asbab amalan-amalan mendekatkan diri kepada Allah yang ulama namakan dengan nama "tasawwuf" dan akidah yang sahih iaitu akidah ahlusunnah waljamaah yang disusun oleh mazhab asya'irah dan maturidiyyah...baca sejarah Sultan Salahuddin Ayubi yang merupakan seorang sufi (ahli tasawwuf) dan berakidah asy'ari dan bermazhab syafie,baca sejarah sultan muhammad al-fatih yang juga seorang sufi dan bermazhab hanafi dan berakidah maturidi dan ramai lagi mujahid2 lain...

Begitu juga peperangan moden seperti perang afghan dengan russia yang lengkap bersenjata dapat dikalahkan oleh org Afghan yang pakai senjata murah tapi mereka bermazhab hanafi,akidah maturidi dan ahli tareqat (sufi) chisty dan lain2 tareqat maka tentera lengkap bersenjata itu hancur lebur.. Begitu juga mujahid2 chechen yang menentang Russia juga dlm keadaan kelengkapan perang yang sedikit tetapi mereka bermazhab syafie,berakidah asy'ari dan mengikut tareqat naqshabandi...mereka hancurkan musuh dengan zikir!

Di tanah melayu juga,para pejuang melayu yang menentang orang kafir penjajah semuanya bermazhab syafie,berakidah asy'ari dan ahli sufi...Kepada yang biasa dengan sejarah Islam,tentu tahu kisah Nabi Sulaiman yang nak istana balqis dibawa ke depannya lalu jin ifrit offer diri untuk bawa,tapi masa yang dia perlukan agak lama,kemudian seorang ahli ibadat yang merupakan seorang sufi offer untuk bawa istana tu hanya dengan sekelip mata!

Sejak dari hari itu syaitan,jin,dajjal,iblis sangat ANTI kepada ahli sufi kerana "teknologi" mereka lebih hebat! Ahli sufi yang memang terkenal sbg jemaah zikir sangat digeruni Dajjal dan pengikutnya kerana nusrah Allah sentiasa bersama mereka kerana Allah berfirman mafhumnya ingatlah aku maka pasti aku akan mengingatiMu...

Dajjal dan illuminati berusaha keras untuk hapuskan fahaman sufi dan tareqat dari umat Islam tapi selama ratusan tahun mereka tidak berjaya...

Akhirnya mereka sedar yang jemaah sufi tidak boleh dihapuskan dengan kekerasan tentera sptimana mreka tidak boleh hapuskan para Sahabat dengan kekerasan... Apa yang Dajjal lakukan?
1) Mereka jauhkan ahli sufi dengan amalan-amalan sufi mereka dengan memperkenalkan pelbagai hiburan,politik,duit dan sebagainya sehingga geng2 tareqat pun sibuk nak berpolitik jugak sedangkan sejak dulu kaum sufi sangat terkenal dengan prinsip zuhud yang tidak ada kebesaran dunia dlm hati seperti hiburan,politik,duit dan lain2...bila ahli sufi dijauhkan dari amalan sufi,maka Allah tidak akan membantu mereka lagi lalu mereka dihancurkan oleh tentera kafir.
2) Dajjal dan illuminati tahu mereka tidak dapat fitnah kaum sufi kerana mereka org kafir,tidak ada org islam yang akan percaya,maka mereka wujudkan 3 jemaah seperti yang diceritakan oleh syeikh ramadhan al-butti iaitu
jemaah wahabi untuk menyesatkan benua arab,
jemaah qadiani untuk menyesatkan benua india dan jemaah baha'iyyah untuk sesatkan benua asia..
ketiga2 jemaah ni wujud secara serentak dalam satu masa dan mereka berjaya sesatkan umat Islam secara besar-besaran.

Tapi di Malaysia,jemaah bahaiyyah tidak berjaya sesatkan umat melayu islam kerana umat melayu islam sangat terkenal berpegang teguh pada mazhab syafie,akidah asya'ari dan amalan2 sufi...zikir2 mereka sentiasa bertalu sehingga ke hari ini...

Tapi di benua Arab,dajjal berjaya menapak di sana dengan membawa fahaman wahabi..jadi jangan hairan lah kenapa budak2 wahabi sangat elergi dan anti dengan tareqat,sufi,zikir dan tasawwuf...kini di malaysia, jemaah bahaiyyah yang gagal telah diganti dengan jemaah wahabi dan budak2 wahabi berusaha keras untuk hapuskan amalan2 soleh di malaysia dengan alasan bidaah,kufur,syirik,tahayul bla bla bla...zikir lepas solat pun dituduh bidaah dan masuk neraka....

Kini jemaah sufi semakin pudar kerana fahaman wahabi telah menyusup..bila ahli sufi mula menjadi wahabi dan tinggalkan zikir,maka sekali lagi pada zaman milenium ini,dajjal menghantar tenteranya di negara2 umat islam untuk menyerang mereka dan terbukti jelas umat2 islam telah dizalimi dengan teruk! Kerana mereka dulu yang berpegang tguh pd amalan2 soleh,kini mereka tinggalkan kerana "bidaah",maka nusrah Allah pun hilang...tentera2 sufi seperti ikhwan muslimin yang diasaskan oleh imam hasan albanna yang bermazhab hanafi,berakidah asyari dan ahli tareqat tijani(tak silap saya) kini sudah mula tidak mahu bermazhab,menolak zikir,bidaah sna sni dan mula canang slogan "islam itu mudah" sperti geng2 wahabi...mreka sudah lupakan perjuangan asal imam hassan albanna yang pegang teguh pada manhaj ahlu sunnah wal jamaah....

Tapi kelak,jemaah sufi ini akan kembali diberi nafas baru,yang zuhud dan tiada kebesaran dunia dalam hatinya,hatinya penuh kebesaran allah dan mereka akan muncul menjadi tentera mahdi seperti yang dikhabarkan dalam hadis contohnya sebuah hadis yang menceritakan bahawa umat islam akan ditimpa bencana kemarau dan tak da makanan selama bertahun2 ketika dajjal datang,hanya pengikut dajjal sahaja yang dapat makanan kerana ikut dia..para sahabat bertanya apa makanan umat islam ketika itu?nabi jawab ZIKIR..
Begitu juga dalam hadis yang lain nabi khabarkan tentera2 imam mahdi akan hancurkan musuh hanya dengan TAKBIR dan zikir2 lain...!

Tidak mungkin tentera2 mahdi yang kuat bezikir ini datang dari kalangan wahabi kerana mereka mengkafirkan jemaah zikir dan mereka sendiri tidak berzikir kecuali zikir "bidaah bidaah bidaah bidaah bidaah apa dalil apa dalil apa dalil apa sanad apa sanad tahyul tahyul tahyul khurafat khurafat" yang tidak pernah dicontohkan oleh nabi atau pun sahabat...
Maka jemaah zikir mana yang Nabi maksudkan akan bersama Imam Mahdi?

Semoga Allah tetapkan hatiku dan seluruh keluarga dan keturunanku dengan "zikir" yang sangat digeruni Dajjal.....
begitu jga Umar mukhtar..salah seorng ahli sufi yg dhukum gntung oleh tntera perancis akibat drpd kehebatan beliau dlm amalan dan jga kepakaran perang dzaman uthmaniah.tntera barat sudah mnjumpai snjata rahsia umat Islam.utk menang mreka tpaksa membunuh ahli sufi ni.maka pada 1927 (klau tak silap) jatuhlah empayer uthmaniah.smenjak itu buku2 mngenai fitnah trhadap ahli dan amalan tareqat mula dlambak kn d serata tmpat utk memusnahkn Islam.

Monday, August 18, 2014

Isu wahhabi : Jangan jadi seperti "empat orang buta dengan seekor gajah"

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِاارَّحِيم 
In the name of Allah, the Most Gracious and the Most Merciful.







Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh; Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, Rahmat ke seluruh alam; Juga kepada ahli keluarga baginda dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;

1 Sudah agak lama penulis tidak dapat meluangkan masa untuk menulis di ruangan ini. Alhamdulillah, pengajaran bagi semester ini telah pun tamat dan para pelajar penulis pada waktu ini sibuk mengulangkaji bagi peperiksaan akhir. Pada semester yang lepas, penulis terpaksa memberi fokus kepada “subjek-subjek baru” di peringkat pasca siswazah. Semoga Blog al-Ashairah dapat terus berkongsi manfaat dalam memahami fitnah yang sangat gelap di akhir zaman ini. Fitnah yang memakai pakaian agama, menggunakan slogan agama yang memukau, namun pada hakikatnya ia adalah racun yang sangat berbisa dan sukar untuk diubati.

2 Dalam banyak pengajaran yang penulis kelolakan, penulis sentiasa menyatakan bahawa “Bid’ah” itu seumpama RACUN dan “Maksiat” itu umpama NAJIS. NAJIS adalah sesuatu yang buruk dari segi luaran dan dalaman. Orang ramai mudah mengelaknya. RACUN pula pada kebiasaannya mempunyai rupa zahir yang elok dan seringkali dihidangkan dengan makanan bagi membunuh mangsanya. Mangsa mungkin tidak sedar dia sedang memakan racun tersebut. Hanya golongan ulama’ lah yang mampu mengenalpasti RACUN “Bid’ah” tersebut.

3 Pada waktu ini, umat Islam Malaysia dilanda dengan Isu Wahhabi. Ia bukanlah isu yang baru, ia adalah bid’ah yang dijenamakan semula dengan pakaian dan gaya persembahan yang baru.

4 Di dalam sejarah umat Islam, bid’ah-bid’ah yang timbul pada akhirnya dapat dipadamkan kerana bid’ah-bid’ah tersebut tumbuh di kalangan para ulama’ yang muktabar. Para ulama’ muktabar terdahulu telah menjalankan kewajipan dengan begitu baik [Semoga Allah merahmati mereka] dalam menguburkan bid’ah-bid’ah tersebut seumpama bangkai yang tertutup rapat.

5 Namun begitu, di akhir-akhir zaman ini, pada waktu para ulama’ muktabar begitu sedikit dan sukar dikenali, kejahilan agama tersebar luas, keilmuan agama hanya dinilai berdasarkan sijil akademik semata-mata [hakikatnya, ini adalah tanda akhir zaman], maka bangkai-bangkai bid’ah yang digali semula oleh sesetengah manusia dibentangkan sebagai ilmu di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat yang kebingungan menjadi keliru, lantas mengambil jalan mudah dalam mempelajari agama ini dengan mengambil apa yang ada di hadapan mata, di TV, Internet, Suratkhabar, dll. Sedangkan disiplin ilmu Islam yang sepatutnya berasaskan “Talaqqi” dan “Suhbah” diabaikan.

6 Penulis ingin berpesan kepada umat Islam di luar sana, khasnya para Bloggers, agar tidak mudah-mudah mengeluarkan kenyataan mengenai Wahhabi jika anda tidak tahu. Ini adalah kerana “saham bid’ah” juga mungkin anda perolehi tanpa anda sedari. Penulis telah melihat banyak penulis dan pelayar internet yang meletakkan komen-komen di website dan blog bagi mempertahankan Wahhabi. Tanpa mereka sedari, mereka sebenarnya mempertahankan bid’ah yang sangat dikeji oleh para ulama’. Imam al-Shafie r.a. pernah berkata: “Aku lebih suka untuk engkau bertemu dengan Allah dengan segala maksiat di atas muka bumi ini kecuali syirik, daripada engkau bertemu dengan Allah nanti dengan sedikit daripada ahwa’ (mengikut hawa nafsu dalam agama, iaitu bid’ah).” Elok juga kalau penulis mengarang berkenaan “BAHANA BID’AH” di masa akan datang.

7 Ramai juga Bloggers yang mencipta teori berdasarkan pandangan politik mereka yang sangat sempit. Rasa sedih melanda penulis apabila melihat orang awam mula bercakap-cakap isu yang sangat serius di dalam agama tanpa ilmu yang jelas. Janganlah sampai perkataan kita ini membawa malang yang besar di akhirat nanti. Saidatina Aishah r.a. pernah berkata: “Barangsiapa yang memuji ahli bid’ah, maka dia telah menolong memusnahkan agama Islam.” Lihatlah betapa buruknya bid’ah di mata para sahabat r.a. AGAMA KAMU, AGAMA KAMU….peliharalah.

8 Ramai juga ahli agama yang mahu mengulas berkenaan isu Wahhabi, tetapi tak ubah seperti kisah “Empat Orang Buta dengan Gajah”. Melihat Wahhabi hanya daripada satu perspektif dan tidak menyeluruh. Maka, ada yang kata Wahhabi macam “tali” kerana memegang belalainya, ada yang kata Wahhabi macam “dinding” kerana memegang badannya, ada yang kata Wahhabi macam “tiang” kerana memegang kakinya, ada yang kata Wahabi macam “daun” kerana memegang telinganya. Ada juga yang kata Wahhabi ini isu “tingkap” sahaja, ada Wahhabi yang kata tak kenal apa itu Wahhabi dan bermacam-macam lagi ulasan yang dibuat tidak berlandaskan pandangan MAJORITI ULAMA’ MUKTABAR, tetapi hanya berdasarkan pandangan peribadi.

9 Berdasarkan pengalaman dan pemerhatian penulis berdasarkan kaedah al-istiqra’, Wahhabi boleh dilihat dari lima (5) perspektif, iaitu fiqh, aqidah, tasawwuf & tarikat, sejarah dan keselamatan negara.

10 Mereka yang melihat Wahhabi dari perspektif fiqh (e.g. qunut, air musta’mal, kaifiyyat tayammum, dll) sering menyatakan bahawa Wahhabi isu furu’ (cabang), tak perlu diperbesarkan, isu remeh temeh, dsb. Mereka terlupa bahawa Wahhabi juga banyak menolak hukum-hukum fiqh yang telah menjadi ijma’ (e.g. wajib qadha’ solat yang sengaja ditinggalkan, talak tiga dalam satu majlis jatuh tiga, hukum mengikut mazhab muktabar, dll), mereka juga terlupa bahawa Wahhabi banyak MENGHARAMKAN YANG HALAL di dalam ibadat, bahkan Wahhabi banyak mengkafirkan orang lain dalam isu furu’ dan sehingga mencaci hukum ahkam dan mazhab yang disusun oleh para ulama’ dan awliya, dll. Mereka yang melihat Wahhabi sebagai isu furu’ fiqh biasanya sering berkata: “Tak perlulah kita kecoh-kecoh, ini isu furu’ jer, tak usah gaduh….”. Sebenarnya orang seperti ini tidak mengenal Wahhabi sepenuhnya.

11 Ada juga yang melihat Wahhabi dari perspektif sejarah semata-mata. Mereka mengakui bahawa Wahhabi ada kaitan dengan kerajaan British dalam menjatuhkan kerajaan Turki Uthmaniyyah. Namun begitu, mereka berkata: “Ini isu lama. Tak guna bincang pada hari ini. Benda dah berlalu.” Orang seperti ini juga memandang isu Wahhabi dengan pandangan sebelah mata. Hakikatnya mereka tidak dapat mengenal perkembangan Wahhabi dan fahamannya. Mereka tidak sedar Wahhabi telah memusnahkan begitu banyak kesan sejarah Islam di semenanjung Arab.

12 Penulis mula mengenali Wahhabi dari perspektif Aqidah, berkaitan dengan sifat-sifat Allah dan ayat-ayat mutashabihat. Mereka yang melihat Wahhabi dari perspektif aqidah (e.g. sifat-sifat Allah, ayat-ayat mutashabihat, af’al al-ibad, kewajipan menghormati Rasulullah SAW, kaedah takfir, menolak ijma’, mempertikaikan karamah dan konsep barakah, dll) biasanya kurang bertolak ansur dengan isu Wahhabi. Bahkan, ramai para ulama’ yang menentang Wahhabi memberi penekanan kepada aspek ini. Ini sebenarnya adalah “titik-titik” pertelingkahan dan perbezaan yang besar di antara Wahhabi dan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Namun begitu, ramai juga para ilmuan agama yang tidak dapat memahami “titik-titik” ini.

13 Keseriusan isu Wahhabi ini juga dapat dilihat daripada perspekti Tasawwuf & Tarikat. Golongan Wahhabi sangat membenci golongan Sufi. Bahkan mereka begitu benci dengan istilah Tasawwuf. Golongan Wahhabi sering mengkafirkan, bahkan ada yang membunuh golongan ahli Sufi dan Tarikat yang muktabar. Banyak amalan-amalan Tasawwuf yang ditentang dan dikafirkan oleh golongan Wahhabi seperti zikir berjemaah, zikir ism al-dhat – Allah, Allah, penggunaan tasbih, tahlil, hadiah pahala dan banyak isu-isu lain. Golongan Wahhabi terlupa sebenarnya mereka memusuhi ramai para Wali Allah yang besar-besar apabila mereka memusuhi ulama’ Tasawwuf dan Tarikat. Mereka yang menilai Wahhabi daripada isu Tasawwuf dan Tarikat dapat memahami keseriusan isu Wahhabi ini.

14 Ada juga yang mula mengenali isu Wahhabi daripada perspektif keselamatan negara. Pihak berkuasa kerajaan pada kebiasaannya mula mengenal fahaman Wahhabi hasil daripada kajian mereka ke atas golongan berfahaman ekstrim yang ditahan. Hampir kesemua yang ditahan mempunyai latar belakang Wahhabi yang kuat. Mereka menyanjung tokoh-tokoh Wahhabi dan membaca buku-buku mereka serta mudah mengkafirkan umat Islam yang lain dan menghalalkan darah mereka kerana berpegang dengan kaedah takfir fahaman Wahhabi. Isu ini pernah diperkatakan di parlimen Indonesia. Oleh sebab itu, ramai pegawai di bahagian keselamatan negara yang memahami keseriusan isu ini.

15 Oleh itu wahai umat Islam, lihatlah isu Wahhabi ini daripada kelima-lima perspektif ini, pasti anda akan dapat memahi keseriusan para ulama’ menilai fahaman dan gerakan Wahhabi ini. Dan janganlah menjadi seperti “Empat Orang Buta dan Seekor Gajah”.
Ya Allah! Peliharalah kekuatan Ahli Sunnah wal Jama’ah di dalam umat ini, jauhilah mereka daripada fitnah yang melanda agama mereka, bantulah umat ini menolak dan memerangi golongan ahli bid’ah dan musuh-musuh mereka.

16 Marilah kita bersama-sama bersolat hajat, membaca Yasin, membaca Hizb al-Bahr, solat sunat Tasbih, Hajat & Taubat, atau/dan lain-lain, dan berdoa semoga memelihara pegangan Ahli Sunnah wal Jama’ah di Malaysia ini khususnya, dan seluruh dunia amnya. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Monday, February 25, 2013

Dunia tempat berpenat.. di akhirat nanti kita berehat :)

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِاارَّحِيم 
In the name of Allah, the Most Gracious and the Most Merciful.


Assalamualaikum. Jemput baca.

Jangan mencari keadilan yang mutlak di dunia ini. Terimalah hidup seadanya. Jadilah diri sendiri. Kita ubah yang mampu diubah, yang tidak mampu serahkan kepada Allah. Jika bahagia yang dicari, tetapi derita yang diberi… terimalah. Bahagialah dengan derita itu.
Manusia akan tersiksa oleh jangkaan dan harapannya. Allah ciptakan putaran hidup ini seumpama kitaran cuaca dan musim. Ada yang menikmati empat musim seperti Eropah. Ada yang kontang sepanjang masa umpama Sahara. Ada yang dingin memanjang seperti di  Antartika. Kita hamba… setelah berusaha sehabis daya, pasrah dan menyerahlah. Carilah R&R dalam kembara hidup ini, di sanalah tempat kita berehat seketika… sebelum berehat selama-lamanya! 
Jika ditakdirkan tidak kita temui sesuatu yang dicari di dunia ini, terimalah hakikat ia memang tidak ada. Di akhirat sana tempat ‘ada’ dan sempurna segala. Jika ‘langit’ hendak runtuh, masakan jari yang kecil ini mampu menahannya. Dalam setiap yang kita miliki, pasti ada jemu dan letihnya. Dalam setiap yang kita tidak miliki, pasti ada kesal dan sayunya. Jangan terlalu dalam segalanya. Jangan terlalu cinta, jangan terlalu benci. Jangan terlalu suka, jangan terlalu duka. Sederhana itulah yang selalu menyelamaktkan ‘hati’ kita.   
Tidak ada keadilan yang mutlak di dunia ini. Semakin kita terima hakikat ini, hidup kita akan menjadi semakin tenang. Jika tidak, kita akan sentiasa rasa arah, kecewa, dipersenda dan ditipu oleh manusia lain dan keadaan. Sebaliknya, apabila kita mula menerima hakikat dunia memang tidak adil, maka hidup kita kan menjadi lebih tenang dan harmoni.
Mengapa di dunia ini tidak ada kedailan yang mutlak? Yang baik, tidak semestinya mendapat ganjaran dan balasan yang baik. Manakala yang jahat, acap kali terlepas dan bebas? Ya, inilah kaedah Allah menguji manusia, agar terserlah siapa yang benar-benar ikhlas berbuat kepadaNya dan siapa pula yang benar-benar meninggalkan kejahatan kerana-Nya jua. Inilah ujian iman.
Menerusi pengajian tauhid, yakni dalam mengenal sifat-sifat Allah, memang kita telah sedia maklum bahawa Allah swt akan memberi dan menunjukkan sifat keadilan-Nya secara mutlak dan tuntas di akhirat nanti. Manakala, di dunia ini Allah tidak menunjukkan sifat keadilanNya secara sepenuh dan menyeluruh sebagai ujian kepada orang-orang yang beriman kepadaNya.
Lihat bagaimana nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS dan beberapa nabi yang lain telah dibunuh oleh musuh-musuh kebenaran. Sekiranya kita sebagai suami, isteri, ibu-bapa, anak-anak, pemimpin, pengikut… menerima layanan atau balasan yang tidak adil, biasalah. Inilah hakikat dan lumrah hidup yang mesti ditempuh. Jangan mencari yang ‘serba kena’ kerana hidup dipenuhi oleh resam yang ‘serba tidak kena’.
 Sekiranya kita berbuat baik kerana mengharapkan ganjaran, pembalasan dan ucapan terima kasih daripada manusia, tentu kita akan keewa kerana umumnya manusia memang tidak pandai berterima kasih apalagi untuk membalas budi. Memang, buat baik dibalas baik, tetapi bukan seua kebaikan dibalas di sini (dunia), ada yang Allah simpan di sana (akhirat).
Justeru, apabila Allah menyuruh manusia melakuan kebaikan atau meninggalkan kejahatan, Allah akan menyeru kepada manusia yang beriman dengan lafaz “Ya ayyuhal lazi na amanu – wahai orang yang beriman.” Begitu juga apabila Rasulullah saw menyeru untuk umatnya melakukan kebaikan, baginda sering memulakanya dengan berkata, “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat hendaklah…”
Banyak hikmahnya mengapa Allah dan RasulNya berbuat demikian, salah satunya ialah untuk menunjukkan bahawa mereka yang mahu dan mampu melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan dengan ikhlas, sabar dan istqamah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Yakni, mereka yang yakin bahawa Allah Maha melihat akan perbuatan itu dan membalasnya dengan ganjaran atau seksa yang setimpal.
Allah memujuk, Nabi Muhammad dan orang-orang beriman dengan firmanNya: “Dan janganlah engkau (wahai Muhammad) menyangka Allah lalai akan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim sesungguhnya Ia hanya melambatkan balasan mereka hingga ke suatu hari yang padanya terbeliak kaku pemandangan mereka, (kerana gerun gementar melihat keadaan yang berlaku).”
Impak daripada itu, manusia yang beriman akan menghadapi hidup ini dengan lebih tenang. Tidak banyak merungut, merengus dan marah-marah. Jika madu dibalas tuba, mereka mampu sabar dan redha. Apabila mendapat ‘limau masam’, mereka akan segera membuat ‘air limau’. Makna, sekiranya apa yang mereka terima sebagai balasan, tidak seperti yang diharapkan dan dijangkakan, mereka tidak ‘memberontak’, sebaliknya mereka mengubah hati, fikiran dan perasaan mereka untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan baik.
Apabila inginkan kejayaan, tetapi sebaliknya kegagalan yang berlaku… mereka akan berkata, “Tidak mengapa, kegagalan adalah yuran kepada kejayaan, kegagalan adalah ‘kejayaan’ yang ditangguhkan. Orang berjaya lebih banyak merasai kegagalan daripada orang yang gagal.”
Mereka tidak mengutuk orang lain, keadaan, diri mereka sendiri apalagi mempersalahan Tuhan. Mereka tidak akan menyesal dan kesal terhadap apa yang berlaku sebaliknya mencari tapak dan semangat baru untuk berusaha dengan lebih baik. Lalu dalam kamus orang berjaya sering tertera pengukuhan kata-kata ini: Kegagalan adalah peluang untuk memulakan semua dengan lebih baik!”
Oang yang telah menerima hakikat dunia ini tidak adil, tidak akan bemusuh dengan dirinya sendiri. Dia tidak mendera dirinya dengan kejam. Mengapa aku bodoh sangat? Mengapa aku lurus bendul? Mengapa aku boleh tertipu? Ini bukan langkah muhasabah yang membangunkan jiwa yang proaktif, tetapi satu ‘self sabotaging habit’ yang menyebabkan dirinya menjadi pasif, pesimis atau murung. Kemudian keburukan dari dalam diri itu akan meletus keluar menjadikan dirinya sebagai ‘toxic people’ yang bersifat aggresif, bersangka buruk dan marah-marah kepada orang lain.
Dalam surah Al Fatehah, Allah menegaskan bahawa Dialah Raja pada Hari Akhirat. Kalimat ini kita ulang-ulang baca pada setiap hari tidak kurang 17 kali. Semuga makna atau kehendak daripada kalimat ini meresap dalam minda sedar dan separa sedar kita, bahawa Allah akan menunjukkan kebesaran sifat Malik-Nya di akhirat, yang pada waktu itu tidak akan ada siapa yang berani mengangkat muka atau berkata-kata.
Di dunia ini, penjahat atau pelaku kemungkaran masih boleh mendabik dada dan meninggikan suara, kerana kuasa yang sementara. Dengan kuasa itu mereka menipu, menindas dan menzalimi dengan pelbagai taktik dan cara. Namun di akhirat nanti, mereka akan kaku, kelu dan membisu apabila Allah menunjukkan kebesaran dan keadilanNya. Di sana nanti barulah kebaikan akan mendapat ganjaran… bukan setimpal tetapi digandakan. Di sana jualah nanti kejahatan akan mendapat balasan… yang pedih, perit dan berganda.
Allah yang Maha Adil tidak mencipta dunia ini dengan serba adil untuk menguji manusia sejauh mana iman mereka kepada sifat keadilanNya! Agar dengan itu orang yang beriman rela ‘disusahkan’ kerana Allah dalam usahanya melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Agar dengan itu, orang beriman akan berkata pada hatinya, “ wahai Tuhan, aku rela menerima kesusahan yang sementara dan sedikit di dunia yang serba tidak adil ini demi mendapat kesenangan yang abadi dan lebih baik di akhirat nanti!”
Sampai ke takah ini, sekiranya hati masih bertanya, “mengapa dunia ini tidak adil?” Jawabnya, “kerana Allah yang Maha Adil ingin menunjukkan keadilanNya di akhirat.” Ya, keyakinan kepada Hari akhirat sangat penting semasa hidup di dunia. Meletakkan sesuatu itu pada tempatnya, itulah erti keadilan. Hati orang beriman ialah hati yang adil. Dalam hati itu terpahat satu hakikat:  Dunia tempat penat, di akhirat tempat berehat!
Ya, hidup selepas mati adalah tempat rehat daripada kepenatan daripada ujian hidup sebelum mati. Justeru, Rasulullah saw sendiri berdoa: ” Ya Allah, jadikanlah kematian tempat istirehat daripada segala keburukan dan kejahatan…”
petikan ini dari sini

Saturday, February 23, 2013

APA ITU BAHAGIA?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِاارَّحِيم 
In the name of Allah, the Most Gracious and the Most Merciful.



APA ITU BAHAGIA?
Oleh: Pahrol Mohamad Juoi
Jika ada manusia yang berkata, alangkah bahagianya kalau aku tidak bahagia, maka sudah tentu dia tidak siuman lagi kerana bahagia itu merupakan fitrah semula jadi setiap manusia. Tidak ada manusia yang tidak inginkannya. Bahkan, apa sahaja yang diusahakan dan dilakukan oleh manusia adalah untuk mencapai bahagia.
• Bahagia itu relatif?
Malangnya, keinginan manusia untuk bahagia sering tidak kesampaian. Ini disebabkan ramai manusia tidak tahu apa makna bahagia sebenarnya dan mereka juga tidak tahu bagaimanakah caranya untuk mendapatkannya. Jika kita mencari sesuatu yang tidak diketahui dan dikenali, sudah pasti kita tidak akan menemuinya. Oleh itu, usaha mencari kebahagiaan itu mestilah bermula dengan mencari apa erti kebahagiaan itu terlebih dahulu.
Apakah erti bahagia? Ada yang beranggapan erti bahagia itu relatif. Ia berubah-ubah dan berbeza antara seorang individu dengan yang lain. Bagi yang sakit, sihat itu dirasakan bahagia. Tetapi apabila sudah sihat, kebahagiaan itu bukan pada kesihatan lagi. Sudah beralih kepada perkara yang lain lagi. Bagi golongan ini kebahagiaan itu adalah satu “moving target” yang tidak spesifik ertinya.
Ada pula golongan pesimis. Mereka beranggapan bahawa tidak ada bahagia di dunia ini. Hidup adalah untuk menderita. Manusia dilahirkan bersama tangisan, hidup bersama tangisan dan akan dihantar ke kubur dengan tangisan. Bahagia adalah satu utopia, ilusi atau angan-angan. Ia tidak ujud dalam realiti dan kenyataan.
• Sumber dalaman atau luaran?
Sebelum mendapat jawapan tentang erti kebahagiaan yang sebenar, mesti dipastikan sumber kebahagiaan itu. Ia datang dari mana? Apakah bahagia itu datang dari luar ke dalam (outside-in) atau dari dalam ke luar (inside-out)?
Ramai yang merasakan bahawa bahagia itu bersumber dari faktor luaran. Ia bersumber daripada harta, kuasa, rupa, nama dan kelulusan yang dimiliki oleh seseorang. Golongan ini merasakan jika berjaya menjadi hartawan, negarawan, bangsawan, rupawan, kenamaan dan cendekiawan maka secara automatik bahagialah mereka.
Atas keyakinan itu ramai yang berhempas pulas dan sanggup melakukan apa sahaja untuk memiliki harta, kuasa dan lain-lain lagi. Kita tidak bahaskan mereka yang miskin, hodoh, tidak popular dan bodoh, lalu gagal merasakan bahagia tetapi mari kita tinjau apakah hidup para hartawan, rupawan, bangsawan, kenamaan dan cendekiawan itu bahagia?
• Realiti hidup jutawan, rupawan dan selebriti.
Realitinya, sudah menjadi “rules of life” (sunatullah), manusia tidak mendapat semua yang diingininya. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengelakkan diri daripada sesuatu yang tidak disenanginya. Hidup adalah satu ujian yang menimpa semua manusia, tidak kira kedudukan, harta dan pangkatnya. Firman Allah:
“Dijadikan mati dan hidup adalah untuk menguji manusia siapakah yang terbaik amalannya.” Al Mulk.
Si kaya mungkin memiliki harta yang berjuta, tetapi mana mungkin dia mengelakkan diri daripada sakit, tua dan mati? Inilah yang berlaku kepada Cristina Onasis pewaris kekayaan ayahnya Aristotle Onasis, yang mati pada usia yang masih muda walaupun memiliki harta yang berbilion dollar. Mereka yang rupawan, tidak boleh mengelakkan diri daripada cercaan. Madonna, Paris Hilton (sekadar menyebut berapa nama) pernah dikutuk akibat kelakuan buruk masing-masing. Lady Diana yang memiliki semua pakej kelebihan wanita idaman akhirnya mati dalam keadaan yang tragis dan menyedihkan sekali.
John Lenon tidak dapat mengelakkan diri daripada dibunuh walaupun dirinya dipuja oleh jutaan peminat. Elizabeth Taylor pula sedang membilang usia yang kian meragut kecantikan dan potongan badannya. Itu belum dikira lagi nasib malang yang menimpa negarawan dan bangsawan tersohor seperti Al Malik Farouk (Masir), Shah Iran (Iran), Ferdinand Marcos (Filipina), Louis XVI (Perancis), Tsar (Rusia) dan lain-lain lagi. Tegasnya, kesakitan, cercaan, dijatuhkan dan lain-lain ujian hidup telah menumpaskan ramai hartawan, rupawan, negarawan dan cendekiawan dalam perlumbaan mencari kebahagiaan.
• Bukti hilangnya bahagia.
Apa buktinya, mereka hilang bahagia? Tidak payah kita berhujah menggunakan Al Quran dan Al Hadis, melalui paparan media massa sahaja sudah cukup menjadi bukti betapa tidak bahagianya mereka yang memiliki segala-galanya itu. Aneh, apabila selebriti dari Hollywood, yakni mereka yang memiliki rupa yang cantik, harta yang berbilion dolar, nama yang tersohor tetapi dilanda pelbagai masalah kronik. Senarai nama yang berkenaan cukup panjang (lihat sebahagian fakta yang dipaparkan).
Mereka yang terlibat dengan arak, rumah tangga cerai berai, dadah, jenayah, sakit jiwa dan bunuh diri ini sudah tentu tidak bahagia. Jika mereka bahagia dengan nama, harta dan rupa yang dimiliki tentulah mereka tidak akan terlibat dengan semua kekacauan jiwa dan kecelaruan peribadi itu. Tentu ada sesuatu yang “hilang” di tengah lambakan harta, rupa yang cantik dan nama yang popular itu.
• Ujian hidup punca hilang bahagia?
Mari kita lihat persoalan ini lebih dekat. Apakah benar ujian hidup menghilangkan rasa bahagia dalam kehidupan ini? Apakah sakit, usia tua, cercaan manusia, kemiskinan, kegagalan, kekalahan dan lain-lain ujian hidup menjadi sebab hilangnya bahagia? Jawabnya, tidak!
Jika kita beranggapan bahawa ujian hidup itu penyebab hilangnya bahagia maka kita sudah termasuk dalam golongan pesimis yang beranggapan tidak ada kebahagiaan di dunia. Mengapa begitu? Kerana hakikatnya hidup adalah untuk diuji. Itu adalah peraturan hidup yang tidak boleh dielakkan. Sekiranya benar itu penyebab hilangnya bahagia, maka tidak ada seorang pun manusia yang akan bahagia kerana semua manusia pasti diuji.
Atas dasar itu, ujian hidup bukan penyebab hilangnya bahagia. Sebagai perumpamaannya, jika air limau nipis diletakkan di atas tangan yang biasa, maka kita tidak akan berasa apa-apa. Sebaliknya, jika air limau itu dititiskan di atas tangan yang luka maka pedihnya akan terasa. Jadi apakah yang menyebabkan rasa pedih itu? Air limau itu kah atau tangan yang luka itu? Tentu jawapannya, luka di tangan itu.
• Metafora air limau dan luka di tangan
Air limau itu adalah umpama ujian hidup, manakala tangan yang luka itu ialah hati yang sakit. Hati yang sakit ialah hati yang dipenuhi oleh sifat-sifat mazmumah seperti takbur, hasad dengki, marah, kecewa, putus asa, dendam, takut, cinta dunia, gila puji, tamak dan lain-lain lagi. Ujian hidup yang menimpa diri hakikatnya menimbulkan sahaja sifat mazmumah yang sedia bersarang di dalam hati. Bila diuji dengan cercaan manusia, timbullah rasa kecewa, marah atau dendam. Bila diuji dengan harta, muncullah sifat tamak, gila puji dan takbur.
Justeru, miskin, cercaan manusia dan lain-lain itu bukanlah penyebab hilang bahagia tetapi rasa kecewa, marah dan tidak sabar itulah yang menyebabkannya. Pendek kata, ujian hidup hakikatnya hanya menyerlahkan sahaja realiti hati yang sudah tidak bahagia lama sebelum ia menimpa seseorang.
Dengan segala hujah di atas terbuktilah bahawa pendapat yang mengatakan bahagia itu datang dari luar ke dalam adalah tertolak sama sekali. Ini kerana faktor “kesihatan” hati jelas lebih dominan dalam menentukan bahagia atau tidaknya seseorang berbanding segala faktor luaran. Ini secara tidak langsung menunjukkan bahawa kebahagiaan itu datang dari dalam ke luar – soal hati.
• Inilah erti bahagia
Secara mudah kebahagiaan itu ialah memiliki hati yang tenang dalam menghadapi apa jua ujian dalam kehidupan. Inilah erti bahagia yang sebenar selaras petunjuk Allah di dalam Al Quran. Firman Allah:
“Ketahuilah dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang.” Al Ra’du 28.
Rasulullah S.A.W. juga telah bersabda:
” Bahawasanya di dalam tubuh badan manusia ada seketul daging. Apabila ia baik, baik pulalah seluruh badan, tetapi apabila ia rosak maka rosak pulalah seluruh badan. Ingatlah ia adalah hati. ” (riwayat Bukhari Muslim)
Rasulullah S.A.W bersabda lagi:
” Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan itu sebenarnya ialah kaya hati “
Kaya hati bermaksud hati yang tenang, lapang dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki – bersyukur dengan apa yang ada, sabar dengan apa yang tiada.
Oleh itu hati perlu dibersihkan serta dipulihara dan dipelihara “kesihatannya” agar lahir sifat-sifat mazmumah seperti amanah, sabar, syukur, qanaah, reda, pemaaf dan sebagainya. Kemuncak kebahagiaan ialah apabila hati seseorang mampu mendorong pemiliknya melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan dan larangan yang ditentukan oleh Islam dengan mudah dan secara “auto pilot”.
KAEDAH MENCARI BAHAGIA MENURUT AL QURAN DAN AS SUNAH:
1. Beriman dan beramal salih.
“Siapa yang beramal salih baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97)
Ibnu ‘Abbas RA meriwayatkan bahawa sekelompok ulama mentafsirkan bahawa kehidupan yang baik (dalam ayat ini) ialah rezeki yang halal dan baik (halalan tayyiban). Sayidina Ali pula mentafsirkannya dengan sifat qana’ah (merasa cukup). Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, meriwayatkan bahawa kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.
2. Banyak mengingat Allah .
Dengan berzikir kita akan mendapat kelapangan dan ketenangan sekali gus bebas daripada rasa gelisah dan gundah gulana. Firman Allah:
“Ketahuilah dengan mengingat (berzikir) kepada Allah akan tenang hati itu.” (Ar-Ra’d: 28)
3. Bersandar kepada Allah.
Dengan cara ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa dan kecewa. Allah berfirman:
“Siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)
4. Sentiasa mencari peluang berbuat baik.
Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan mahupun perbuatan dengan ikhlas dan mengharapkan pahala daripada Allah akan memberi ketenangan hati.
Firman-Nya:
“Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh ( manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barang siapa melakukan hal itu karena mengharapkan keredaan Allah, nescaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 114)
5. Tidak panjang angan-angan tentang masa depan dan tidak meratapi masa silam.
Fikir tetapi jangan khuatir. Jangan banyak berangan-angan terhadap masa depan yang belum pasti. Ini akan menimbulkan rasa gelisah oleh kesukaran yang belum tentu datang. Juga tidak terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan semula. Rasulullah SAW bersabda: “Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagi mu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpa mu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini nescaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,” karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaitan.” (HR. Muslim)
6. Melihat “kelebihan” bukan kekurangan diri.
Lihatlah orang yang di bawah dari segi kehidupan dunia, misalnya dalam kurniaan rezeki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita. Rasulullah SAW bersabda:
“Lihatlah orang yang di bawah kamu dan jangan melihat orang yang di atas kamu karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
7. Jangan mengharapkan ucapan terima kasih manusia.
Ketika melakukan sesuatu kebaikan, jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan manusia. Berharaplah hanya kepada Allah. Kata bijak pandai, jangan mengharapkan ucapan terima kasih kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Malah ada di antara hukama berkata, “sekiranya kita mengharapkan ucapan terima kasih daripada manusia nescaya kita akan menjadi orang yang sakit jiwa!”. Firman Allah:
“Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al Insan: 9)

Monday, February 11, 2013

Mencari Ketenangan Hati

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِاارَّحِيم 
In the name of Allah, the Most Gracious and the Most Merciful.



Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.. dah lama tak update blog.. kali ni nak share tentang hati.. aisyah copy ni dari sini. jemput baca. moga beroleh manfaat.

Ketenangan itu dicapai melalui zikrullah. Namun zikrullah yang bagaimana dapat memberi kesan dan impak kepada hati? Ramai yang berzikir tetapi tidak tenang. Ada orang berkata, “ketika saya dihimpit hutang, jatuh sakit, dicerca dan difitnah, saya pun berzikir. Saya ucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allah hu Akbar beratus-ratus malah beribu-ribu kali tetapi mengapa hati tidak tenang juga?”
Zikrullah hakikatnya bukan sekadar menyebut atau menuturkan kalimah. Ada bezanya antara berzikir dengan “membaca” kalimah zikir. Zikir yang berkesan melibatkan tiga dimensi – dimensi lidah (qauli), hati (qalbi) dan perlakuan (fikli). Mari kita lihat lebih dekat bagaimana ketiga-tiga dimensi zikir ini diaplikasikan.
Katalah lidah kita mengucapkan subhanallah – ertinya Maha Suci Allah. Itu zikir qauli. Namun, pada masa yang sama hati hendaklah merasakan Allah itu Maha Suci pada zat, sifat dan af’al (perbuatannya). Segala ilmu yang kita miliki tentang kesucian Allah hendaklah dirasai bukan hanya diketahui. Allah itu misalnya, suci daripada sifat-sifat kotor seperti dendam, khianat, prasangka dan sebagainya.
  • Dimensi kata, rasa dan tindakan
Jika seorang hamba yang berdosa bertaubat kepada-Nya, Allah bukan sahaja mengampunkannya, malah menghapuskan catatan dosa itu, bahkan menyayangi dan memberi “hadiah” kepadanya. Firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”At Tahrim 8
Firman Allah lagi:
“… Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri” al baqarah 222.
Sifat ini berbeza sekali dengan kita manusia yang kekadang begitu sukar memaafkan kesalahan orang lain. Dan segelintir yang mampu memaafkan pula begitu sukar melupakan – forgive yes, forget not! Hendak memberi hadiah kepada orang yang bersalah mencaci, memfitnah dan menghina kina? Ah, jauh panggang daripada api! Begitulah kotornya hati kita yang sentiasa diselubungi dendam, prasangka dan sukar memaafkan. Tidak seperti Allah yang begitu suci, lunak dan pemaaf. Jadi, apabila kita bertasbih, rasa-rasa inilah yang harus diresapkan ke dalam hati. Ini zikir qalbi namanya.
Tidak cukup di tahap itu, zikrullah perlu dipertingkatkan lagi ke dimensi ketiga. Hendaklah orang yang bertasbih itu memastikan perlakuannya benar-benar menyucikan Allah. Ertinya, dia melakukan perkara yang selaras dengan suruhan Allah yang Maha Suci dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Yang halal, wajib, harus dan sunat dibuat. Manakala yang haram dan makruh ditinggalkannya. Zina, mengumpat, mencuri, memfitnah dan lain-lain dosa yang keji dan kotor dijauhi. Bila ini dapat dilakukan kita telah tiba di dimensi ketiga zikrullah – zikir fikli!  
Sekiranya ketiga-tiga dimensi zikrullah itu dapat dilakukan, maka kesannya sangat mendalam kepada hati. Sekurang-kurang hati akan dapat merasakan empat perkara:
  • Rasa kehambaan.
  • Rasa bertuhan.
  • Memahami maksud takdir.
  • Mendapat hikmah di sebalik ujian.
Hati adalah sumber dari segala-galanya dalam hidup kita, agar kehidupan kita baik dan benar, maka kita perlu menjaga kebersihan hati kita. Jangan sampai hati kita kotori dengan hal-hal yang dapat merosak kehidupan kita apalagi sampai merosak kebahagiaan hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti. Untuk menjaga kebersihan hati maka kita juga perlu untuk menjaga penglihatan, pendengaran, fikiran, ucapan kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan menjaga hal-hal tersebut kita dapat menjaga kebersihan hati kita. Dengan hati yang bersih kita gapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
  • Rasa kehambaan.
Rasa kehambaan ialah rasa yang perlu ada di dalam hati seorang hamba Allah terhadap Tuhan-Nya. Antara rasa itu ialah rasa miskin, jahil, lemah, bersalah, hina dan lain-lain lagi. Bila diuji dengan kesakitan, kemiskinan, cercaan misalnya, seorang yang memiliki rasa kehambaan nampak segala-galanya itu datang daripada Allah. Firman Allah:
“Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakal orang-orang yang beriman.” At Taubah: 51
Seorang hamba akan pasrah dan merasakan bahawa dia wajar diuji. Bukankah dia seorang hamba? Dia akur dengan apa yang berlaku dan tidak mempersoalkan mengapa aku yang diuji? Kenapa aku, bukan orang lain? Ini samalah dengan mempersoalkan Allah yang mendatangkan ujian itu. Menerima hakikat bahawa kita layak diuji akan menyebabkan hati menjadi tenang. Jika kita “memberontak” hati akan bertambah kacau.
Imam Ghazali rhm pernah menyatakan bahawa cukuplah seseorang hamba dikatakan sudah “memberontak” kepada Tuhannya apabila dia menukar kebiasaan-kebiasaan dalam hidupnya apabila diuji Allah dengan sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya, dia tidak lalu mahu makan-minum secara teratur, tidak mandi, tidak menyisir rambut, tidak berpakaian kemas, tidak mengemaskan misai dan janggut dan lain-lain yang menjadi selalunya menjadi rutin hidupnya. Ungkapan mandi tak basah, tidur tak lena, makan tak kenyang adalah satu “demonstrasi” seorang yang sudah tercabut rasa kehambaannya apabila diuji.
Bila ditimpa ujian kita diajar untuk mengucapkan kalimah istirja’ – innalillah wa inna ilaihi rajiun. Firman Allah:
“…Iaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-nyalah kami kembali.” Al baqarah 156
Mengapa kita diperintahkan mengucapkan istirja’? Kalimah ini sebenarnya mengingatkan kita agar kembali merasakan rasa kehambaan. Bahawa kita adalah hamba milik Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Kita layak, patut dan mesti diuji kerana kita hamba, bukan tuan apalagi Tuhan dalam hidup ini.
  • Rasa bertuhan.
Rasa kehambaan yang serba lemah, miskin, kurang dan jahil itu mesti diimbangi oleh rasa bertuhan. Bila kita rasa lemah timbul pergantungan kepada yang Maha kuat. Bila kita rasa kurang timbul pengharapan kepada yang Maha sempurna. Bila miskin, timbul rasa hendak meminta kepada yang Maha kaya. Rasa pengharapan, pengaduan dan permintaan hasil menghayati sifat-sifat Allah yang Maha sempurna itulah yang dikatakan rasa bertuhan.
Jika rasa kehambaan menyebabkan kita takut, hina, lemah sebaliknya rasa bertuhan akan menimbulkan rasa berani, mulia dan kuat. Seorang hamba yang paling kuat di kalangan manusia ialah dia yang merasa lemah di sisi Allah. Ketika itu ujian walau bagaimana berat sekalipun akan mampu dihadapi kerana merasakan Allah akan membantunya. Inilah rasa yang dialami oleh Rasulullah SAW yang menenteramkan kebimbangan Sayidina Abu Bakar ketika bersembunyi di gua Thaur dengan katanya, “la tahzan innallaha maana – jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita!”
Rasa bertuhan inilah yang menyebabkan para nabi dan Rasul, mujaddid dan mujtahid, para mujahid dan murabbi sanggup berdepan kekuatan majoriti masyarakat yang menentang mereka mahupun kezaliman pemerintah yang mempunyai kuasa. Tidak ada istilah kecewa dan putus asa dalam kamus hidup mereka. Doa adalah senjata mereka manakala solat dan sabar menjadi wasilah mendapat pertolongan Allah. Firman Allah:
“Dan pohonlah pertolongan dengan sabar dan solat.” Al Baqarah.
Dalam apa jua keadaan, positif mahupun negatif, miskin ataupun kaya, berkuasa ataupun rakyat biasa, tidak dikenali ataupun popular, hati mereka tetap tenang. Firman Allah:
“Dialah Tuhan yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang yang beriman, supaya keimanan mereka makin bertambah daripada keimanan yang telah ada. Kepunyaan Allah tentang langit dan bumi, dan Allah itu Maha Tahu dan Bijaksana.” Al Fathu 4.
Bila hati tenang berlakulah keadaan yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya:
Maksudnya: Amat menarik hati keadaan orang beriman, semua pekerjaannya baik belaka, dan itu ada hanya pada orang beriman: Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur. Dan itu memberikannya kebaikan (pahala). Jika ditimpa bahaya (kesusahan), dia sabar dan itu juga memberikannya kebaikan.” – Al Hadis.
  • Memahami maksud takdir Allah.
Mana mungkin kita mengelakkan daripada diuji kerana itu adalah takdir Allah SWT. Yang mampu kita buat hanyalah meningkatkan tahap kebergantungan kita kepada Allah di samping berusaha sedaya upaya menyelesaikan masalah itu. Ungkapan yang terkenal: We can’t direct the wind but we can adjust our sail – kita tidak mampu mengawal arah tiupan angin, kita hanya mampu mengawal kemudi pelayaran kita.
Kemudi dalam pelayaran kehidupan kita hati. Hati yang bersifat bolak-balik (terutamanya bila diuji) hanya akan tenang bila kita beriman kepada Allah – yakin kepada kasih-sayang, keampunan dan sifat pemurah-Nya. Dalam apa jua takdir yang ditimpakan-Nya ke atas kita adalah bermaksud baik sekalipun kelihatan negatif. Baik dan buruk hanya pada pandangan kita yang terbatas, namun pada pandangan-Nya yang Maha luas, semua yang ditakdirkan ke atas hamba-Nya pasti bermaksud baik.
Tidak salah untuk kita menyelesaikan masalah yang menimpa (bahkan kita dituntut untuk berbuat demikian), namun jika masalah itu tidak juga dapat diselesaikan, bersangka baik kepada Allah berdasarkan firman-Nya:
“Ada perkara yang kamu tidak suka tetapi ia baik bagi kamu dan ada perkara yang kamu suka tetapi ia buruk bagi kamu, Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”
Surah Al Baqarah : 216
Seorang ahli hikmah, Ibn Atoillah menjelaskan hakikat ini menerusi katanya, “barang siapa yang menyangka sifat kasih sayang Allah terpisah dalam takdir-Nya, maka itu adalah kerana pen¬deknya penglihatan akal dan mata hati seseorang.”
Siapa tidak inginkan kekayaan, malah kita dituntut mencari harta. Namun jika setelah berusaha sedaya upaya, masih miskin juga, bersangka baiklah dengan Tuhan… mungkin itu caranya untuk kita mendapat pahala sabar. Begitu juga kalau kita ditakdirkan kita tidak berilmu, maka berusahalah untuk belajar, kerana itulah maksud Allah mentakdirkan begitu.
Kalau kita berkuasa, Allah inginkan kita melaksanakan keadilan. Sebaliknya, kalau kita diperintah (oleh pemimpin yang baik), itulah jalan untuk kita memberi ketaatan. Rupanya cantik kita gunakan ke arah kebaikan. Hodoh? kita terselamat daripada fitnah dan godaan. Ya, dalam apa jua takdir Allah, hati kita dipimpin untuk memahami apa maksud Allah di sebalik takdir itu.
Jadi, kita tidak akan merungut, stres dan tertekan dengan ujian hidup. Hayatilah kata-apa yang ditulis oleh Ibnu Atoillah ini:
“Untuk meringankan kepedihan bala yang menimpa, hendak dikenal bahawa Allah-lah yang menurunkan bala itu. Dan yakinlah bahawa keputusan (takdir) Allah itu akan memberikan yang terbaik.”
Tadbirlah hidup kita sebaik-baiknya, namun ingatlah takdir Tuhan sentiasa mengatasi tadbir insan. Jangan cuba mengambil alih “kerja Tuhan” yakni cuba menentukan arah angin dalam kehidupan ini tetapi buatlah kerja kita, yakni mengawal pelayaran hidup kita dengan meningkatkan iman dari semasa ke semasa. Kata bijak pandai: “It’s not what happens to you, but it’s what you do about it. It is not how low you fall but how high you bounce back!”
  • Mendapat hikmah bila diuji.
Hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik yang tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh “mehnah” – didikan langsung daripada Allah melalui ujian-ujian-Nya. Ra¬sul¬ullah s.a.w. bersabda, “perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya (tahi besi) dan tinggallah yang baik sahaja!”
Jika tidak diuji, bagaimana hamba yang taat itu hendak mendapat pahala sabar, syukur, reda, pemaaf, qanaah daripada Tuhan? Maka dengan ujian bentuk inilah ada di kalangan para rasul ditingkatkan kepada darjat Ulul Azmi – yakni mereka yang paling gigih, sabar dan berani menanggung ujian. Ringkas¬nya, hikmah adalah kurnia termahal di sebalik ujian buat golongan para nabi, siddiqin, syuhada dan solihin ialah mereka yang sentiasa diuji.
Firman Allah: Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam syurga sedangkan kepada kamu belum datang penderitaan sebagai¬mana yang dideritai orang-orang terdahulu daripada kamu, iaitu mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan ke¬goncangan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya merintih: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
(Surah al-Baqarah: 214)
Pendek kata, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud-maksud yang baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan ber¬dosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu peng¬ampunan. Manakala dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat.
Justeru, telah sering para muqarrabin (orang yang hampir dengan Allah) tentang hikmah ujian dengan berkata: “Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah.
Apabila keempat-empat perkara ini dapat kita miliki maka hati akan sentiasa riang, gembira dan tenang dengan setiap pekerjaan yang dilakukan. Sentiasa melakukan kerja amal, tolong menolong, bergotong royong, sentiasa bercakap benar, sopan dan hidup dengan berkasih sayang antara satu dengan lain.
Marilah kita bersihkan hati kita dari segala kotorannya dengan memperbanyak zikrullah. Itulah satu-satunya jalan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti. Manusia perlukan zikir umpama ikan perlukan air. Tanpa zikir, hati akan mati. Tidak salah memburu kekayaan, ilmu, nama yang baik, pangkat yang tinggi tetapi zikrullah mestilah menjadi teras dan asasnya.
Insya-Allah, dengan zikrullah hati kita akan lapang sekalipun duduk di dalam pondok yang sempit apatah lagi kalau tinggal di istana yang luas. Inilah bukti keadilan Allah kerana meletakkan kebahagiaan pada zikrullah – sesuatu yang dapat dicapai oleh semua manusia tidak kira miskin atau kaya, berkuasa atau rakyat jelata, hodoh atau jelita. Dengan itu semua orang layak untuk bahagia asalkan tahu erti dan melalui jalan yang sebenar dalam mencarinya. Rupa-rupanya yang di cari terlalu dekat… hanya berada di dalam hati sendiri
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...